Kondisi yang bisa dikatakan sebagai depresi prenatal itu dialami Sally (36). Ia mengaku senang ketika akhirnya hamil, ditahun keempat usia pernikahannya. Namun, ia juga sangat khawatir bakal gagal mengasuh anak dan merasa diri tak bisa menjadi ibu yang baik.
Perasaan itu membuat ia bersikap "cuek" selama hamil, bahkan sampai beberapa pekan setelah ia melahirkan lewat bedan caesar. "Total yang mengurus si kecil waktu itu, suami dan ibu saya. Saya memberi ASI, tetapi waktu menyusui saya cuma duduk diam. Ibu yang menggendong bayi saya selama dia menyusu," tuturnya.
![]() |
| Ilustrasi Depresi ( Foto @U-Report ) |
Untunglah ibu dan sang suami begitu telaten merawat bayinya. Juga mendampingi dan menyadarkan Sally bahwa bayi perempuan itu sangat membutuhkannya.
Terapi Perilaku
Gejala dini depresi prenatal, menurut konsultan kesehatan jiwa di London, Inggris, Dr. Leon van Hyssteen, memang tidak mudah didiagnosis. Pasalnya, kehamilan pada umumnya pun bisa menyebabkan ibu mengalami gejala cemas, letih, sulit makan dan lainnya yang mirip depresi, tetapi biasanya lebih singkat dan tidak seberat gejala depresi prenatal.
Padahal, perempuan yang mengalami depresi selama hamil diduga lebih banyak ketimbang perempuan yang mengalami depresi pasca melahirkan. Dalam British Medical Journal dilaporkan bahwa satu dari 10 ribu ibu hamil diperkirakan mengalami depresi prenatal. Dan separuh dari kasus tersebut terdiagnosis sebagai depresi pasca melahirkan karena baru diketahui setelah si ibu melahirkan.
Bahayanya, depresi ini dapat memengaruhi perkembangan anak. Pada kasus yang berat, bisa menyebabkan ibu mengalami gejala psikotik yang tentu saja membahayakan bayi yang baru ia lahirkan.
Kesulitan mengidentifikasi kasus depresi prenatal juga disebabkan banyak ibu hamil yang takut atau malu mengungkapkan perasaannya. Kalaupun terdiagnosis, tambah Dr. Jonathan Evans dari Bristol University, Inggris, Mengobati ibu hamil dengan depresi bisa menjadi dilema.
"Memberi obat antidepresan bukan merupakan ide bagus. Cara yang bisa ditempuh paling terapi perilaku, yakni mengajak ibu hamil bicara dari hati ke hati dan membantunya mengubah perilaku serta pola pikirnya. Kami sekarang berusaha mengidentifikasi depresi pada ibu hamil sedini mungkin." ujarnya seperti diliris Dailymail online.
MENENANGKAN DIRI
Nicci Blount dari Post anda Antenatal Depression Support and Information Incorporated (PANDSI), di Australiam menyarankan tip ini, untuk membantu memperbaiki perasaan, sehingga secara perlahan depresi bisa diredakan :
- Makan secara teratur dalam porsi kecil agar kadar gula darah selalu stabil dan meningkatkan energi, yang selanjutnya akan memperbaiki emosi.
- Hindari makanan yang mengandung aspartam, seperti minuman ringan. Aspartam dapat menghambat pembentukan serotonin, sehingga mengganggu emosi.
- Hindari makanan tinggi lemak dan kafein.
- Cobalah akupuntur atau akupresur.
- Lakukan perawatan diri dengan rileksasi seperti yoga, meditasi, mandi dan punya me time.
- Lakukan olah fisik yang aman untuk ibu hamil seperti jalan kaki dan berenang.
- Istirahat cukup.
- Minta dukungan pasangan, keluarga dan teman.
- Minta bantuan profesional (psikolog atau psikiater).
Berikut ini gejala depresi prenatal berdasarkan penuturan dari Dr. Jonathan Evans :
- Tidak mampu konsentrasi.
- Gelisah, cemas.
- Mudah tersinggung dan marah, pada orang lain maupun diri sendiri.
- Selalu sedih, sering menangis tanpa sebab jelas.
- Gangguan tidur (kurang tidur maupun kebanyakan tidur).
- Gangguan makan (tidak nafsu makan atau makan berlebihan).
- Selalu merasa letih.
- Tidak bisa menikmati apa pun. Agrofobia, takut keluar rumah dan bersosialisasi.
- Cenderung obsesif kompulsif, misalnya berulang kali cuci tangan tanpa alasan.


